Sunday, 8 September 2013

The Amazing Spider-man : Peran Cewek Hanya Sebagai Umpan Musuh?

The Amazing Spider-man :
Peran Cewek Hanya Sebagai Umpan Musuh?
“ Jauh lebih penting dengan siapa kita nonton,
ketimbang film apa yang kita tonton ”
--- Dio Xervan Lie ---
“ Hahh? Jadi kamu udah nonton Spiderman 4? Ngapain nonton lagi?” tanya Chensy.
     “ Bukan Spiderman 4, tapi The Amazing Spider-man. Ini bukan kelanjutan dari tiga film Spider-man karya Sam Raimi sebelumnya.” Jawab Servan sambil menikmati rujak di dekat Mal Sawokembar Theatre, menunggu film diputar.
     “ Iya, tapi kenapa kamu sampai bela-belain nonton dua kali? Kamu suka banget sama film ini ya?” lanjut Chensy.
     “ Elo tuh kayak nggak tahu aja Chens, dari dulu Servan kan emang ngefans berat sama pemeran Mary Jane?” sahut Ima.
     “ Pemeran Mary Jane? Kirsten Dunst? Kamu ngefans sama dia?” ujar Chensy.
     “ Cewek si Peter Parker kali ini bukan Mary Jane, tapi Gwen Stacy! Aku emang ngefans sama Mary Jane, tapi bukan itu alasan utamaku nonton dua kali!” jawab Servan.
     “ Kalo dari yang kubaca di internet sih paling bagus tuh Spiderman 2. Karena banyak banget remaja yang merasa terwakili oleh sosok Peter Parker.” Kata Chensy.
     “ Ya, kamu benar. Aku juga merasa sangat terwakili oleh sosok Peter Parker. Peter bukan anak dari keluarga tajir, tipe kutu buku, bukan sosok idola di kampusnya, dan nggak banyak cewek yang bisa dia dekati. Tipeku banget deh!” kata Servan.
    “ Hmmm… nggak juga lho Van, menurutku kamu jauh lebih populer ketimbang si Peter Parker sebelum dia jadi Spiderman. Jangan terlalu merendah lah.” Ujar Chensy.
   “ Kalo Servan adalah Peter Parker, berarti kamu adalah Mary Jane donk!” kata Ima kepada Chensy.
    “ Hah? Trus kamu siapa Im? Gwen Stacy?” kata Chensy.
    “ Untung di Servan dong! Bisa ngencanin dua cewek cantik sekaligus kayak kita! Pantesan lu bela-belain nonton bareng sama kita berdua. Ya udah nih tiketmu, sana kamu nonton sendiri aja sana!” kata Ima sambil meledek.
    “ Kalau aku adalah Peter Parker di tiga film Sam Raimi, aku nggak recommend kalau salah satu dari kalian jadi Mary Jane!” kata Servan.
   “ Kenapa? Apa kita nggak masuk kualifikasimu? Kok sombong banget sih kamu Van” kata Chensy.
   “ Bukan gitu! Kalian semua nonton tiga film Spiderman kan?”
   “ Ya!” jawab Ima dan Chensy serempak.
   “ Aku juga sangat menyukai trilogy film itu, tapi ada satu peran Mary Jane di setiap film itu yang aku nggak suka!” kata Servan.
   “ Apa itu?” tanya Chensy.
   “ Coba perhatikan! Di film Spiderman yang pertama, Mary Jane disandera oleh Green Goblin, agar Spiderman bisa muncul. Di film Spiderman 2, Mary Jane juga dijadikan sandera oleh Doctor Octopus. Lalu terakhir di Spiderman 3, Mary Jane juga disandera oleh Venom. Dalam Trilogy Spiderman ini, seolah-olah Mary Jane hanya berperan sebagai sandera yang dimanfaatkan oleh para villain untuk mencelakakan Spiderman. Menurutku kehadiran kalian lebih dari sekedar itu!” Papar Servan.
   “ Ohhhh Servan, you are so sweet,  tapi rada lebay!” ujar Ima.
   “ Hmmm… bener juga ya analisamu Van! Kalau aku juga punya keberatan lain dari film trilogy Spiderman ini.” kata Chensy.
   “ Apa itu?” tanya Servan.
   “ Sosok villain yang ditampilkan selalu memiliki kepribadian ganda, antara baik dan jahat. Di film pertama, Green Goblin berperang batin dengan dirinya sendiri di depan cermin. Di Spiderman2, Doc Ock juga perang batin dengan pikirannya sendiri, yang telah dikuasai oleh syaraf dan kecerdasan buatan. Sedangkan di film ketiga, Peter Parker juga memiliki perang batin dengan dirinya sendiri, ketika dia memakai kostum hitam. Kayaknya polanya selalu begitu.”
   “Hmm, analisamu ada benarnya juga Chensy! Jadi kalau boleh kusimpulkan; ada dua kemiripan dalam trilogy spiderman. Pertama, Mary Jane selalu jadi sandera dari Villain. Ke dua, sosok villain selalu memiliki kepribadian ganda antara menjadi baik atau jahat!” kata Servan.
   “ Itu doank? Masih banyak lho hal-hal positif lain dari trilogy Spiderman!” kata Chensy.
   “Udah-udah! Filmnya udah mau mulai! Kita masuk ke studio aja yuk!” kata Ima.
Servan, Chensy dan Ima segera beranjak dari meja mereka, menuju studio 1, tempat film The Amazing Spider-man di putar.
   “ Eh, jadi kalian mau tahu nggak, apa alasanku mau nonton dua kali?” kata Servan.
   “ Nggak penting! Nggak usah!” kata Ima.
   “ Beneran nggak mau tahu?” kata Servan.
   “ Awas ya jangan spoiler lho! Aku paling sebel kalo cerita film dibocorin sebelum kutonton!” kata Chensy.
   “ Udahlah Van, kami nggak mau tahu! Pokoknya kita nonton dan elo jangan rebut. Titik!” kata Ima.
   “ Ehm, biar kukasih tahu yah! Sebenarnya aku punya prinsip begini; Jauh lebih penting dengan siapa kita nonton, ketimbang film apa yang kita tonton.” Ujar Servan.
   “ Haaahhhh gak penting banget sih? Ayuk Chens, kita masuk aja yuk!” kata Ima sambil menggandeng lengan Chensy.
Ima dan Chensy segera ngeloyor masuk ke dalam bioskop meninggalkan Servan.
   “ Hei tunggu, tiketku jangan dibawa donk!” kata Servan.
TAMAT.

No comments:

Post a comment