Monday, 23 September 2013

DICKY, SI CHEF KEREN dan BELAGU III (3 dari 4 )

DICKY, SI CHEF KEREN dan BELAGU  III
Bagian 3 Dari 4 : "Ketika Hal Buruk Menimpa Orang Baik"

   Kenapa Tuhan membiarkan orang-orang baik mengalami penderitaan? 
Jelaskan padaku Xervan!!!
--- CHARISMA WIJAYA ---  

  
   Aku sadar, rasa iri hatiku sebenarnya hanyalah cermin dari egoku sebagai cowok yang nggak mau kalah. Kalau dibanding-bandingin lagi, sebenarnya di kampusku aku juga nggak kalah populer. Dicky memang sudah beberapa kali masuk TV sebagai Chef muda. Charisma boleh cerdas, tampan dan kaya? Tapi aku juga punya reputasi yang baik. Aku lahir dari papaku yang terkenal menjadi konsultan forensik kasus kriminal. Tulisanku sudah dimuat rutin di majalah Zoom-In, Indonesia. Mestinya aku lebih mensyukuri apa yang ada padaku, ketimbang iri pada apa yang dipunyai orang lain. 
     “ Ingat Xervan, membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah akar dari segala penyebab frustasi!” kataku dalam hati. Dengan berat hati, aku harus mengikhlaskan diri melihat Renata masuk dapur dan bergabung dengan 'dayang-dayang' Dicky yang sibuk mencuci piring dan gelas. Dicky tetap tidak membiarkan satu cowokpun masuk dapur. Dia ingin memonopoli cewek-cewek keren tadi.
     “ Kenyang Van?” tanya Charisma yang tiba-tiba muncul di sampingku.
   “ Fiuhhhh! Kenyang banget Kris! Si Dicky emang hebat!“ kataku mencoba menutupi kecemburuanku.
    “ Ehm Van, aku sebenarnya pengin nanya-nanya sesuatu sama kamu nih! Tapi nggak asik kalau ngebahasnya di depan mereka.”
    “ Kenapa nggak asik? Memangnya topik apa?”
   “ Topik yang nggak penting buat orang lain, tapi mungkin penting buat kamu!”
   Aku jadi penasaran. Topik penting apa yang ingin dibahas Charisma? Jangan-jangan dia mau ngaku kalau sebenarnya dia juga suka sama Renata?
   “ Penting ya?” tanyaku.
   “ Kita obrolin di luar sambil ngopi yuk!”
***

    Aku nggak nyangka, walau Charisma nggak dijuluki sebagai penggemar kopi, tapi koleksi kopinya benar-benar luar biasa. Ia membawaku ke sudut ruangan lain yang didesain mirip café. Di sana tersimpan beberapa bungkus kopi luwak, kopi Jamaica, dan sejumlah kopi lokal yang lain. Ada juga brand yang populer, seperti Starbucks, dan Millstone. Sisanya adalah brand yang asing bagiku. Seluruh peralatan pembuat kopi juga tersedia di sana. Sesaat kemudian, segelas kopi hitam original tanpa campuran sudah tersedia di depanku. Entah merk apa yang dipilih Charisma, tapi dari keharumannya, aku tahu bahwa kopi ini cukup berkelas. Inilah salah satu daya tarik Charisma yang bikin banyak cewek suka. Walau lebih keren, lebih kaya dan lebih pintar dibanding Dicky, tapi dia bukan tipe cowok arogan.
    “ Pertama Van, aku harus bilang, aku salut dan iri sama kamu!” kata Charisma.
    Aku kaget campur bangga! Charisma punya segalanya, tapi kenapa dia iri padaku? Kedengarannya kayak cerita-cerita novel picisan. Ketika aku iri pada Dicky, Charisma justeru iri padaku. Jangan-jangan Charisma suka pada Renata, tapi nggak kesampaian.
   “ …aku juga iri pada Dicky, Deni dan juga seluruh teman-teman yang kuundang malam ini!” lanjut Charisma.
Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang membuat Charisma iri.
   “ Orang mungkin iri denganku karena aku lahir dari keluarga orang kaya. Tapi sejujurnya aku sering iri dengan orang-orang yang sederhana, aku sering berharap bisa seperti mereka.” kata Charisma.
   “ Kamu iri dengan orang yang sederhana dan pengin jadi seperti mereka?”
  “ Jangan salah Van! Aku bukan pengin jadi miskin, tapi aku berharap bisa memiliki cara pandang yang simple! Aku iri dengan siapapun yang bisa berpikir simple, entah dia kaya ataupun miskin!” ujar Charisma.
    “ Aku nggak ngerti maksudmu Kris? Pikiran simple yang gimana sih? Apa cara berpikirmu yang kompleks bikin kamu menderita?” tanyaku.
Charisma tampak kesulitan memberikan jawaban. Sorot matanya mulai memancarkan kegelisahan yang mendalam. Entah apa yang dipendamnya, padahal selama ini dia terlihat selalu ceria.
***
    “ Aku dihantui pertanyaan-pertanyaan yang nggak ada jawabannya. Aku sampai frustasi mikirinnya. Bukannya aku mendapat jawaban, malahan untuk sekedar tahu; 'apa yang jadi pertanyaanku' itupun nggak bisa. ” lanjut Charisma.
    “ Kok jadi filosofis gitu? Sebenarnya kamu baru galau sama siapa sih?” 
Charisma menatapku dengan tajam, siap untuk memuntahkan segala kefrustasiannya.
   “Oke Van! Kamu tadi nyebut-nyebut tentang Tuhan waktu ngobrol sama Renata, iya kan?”
   “ Iya emang!”
   " Kau yakin Tuhan itu ada Van?"
   " Ya! Yakin seratus persen!"
   “ Kalau Tuhan memang ada, kenapa kakakku harus kehilangan suaminya di usia pernikahannya yang masih sangat muda?” 

    Mata Charisma menatapku dengan tajam. Baru kali ini aku melihat Charisma sedemikian frustasi. 
   " Kenapa Tuhan membiarkan orang-orang baik mengalami penderitaan? Jelaskan padaku Xervan!!!"
   Nada suara Charisma memprotesku, tapi ekspresi wajahnya memohon. Dia benar-benar butuh penjelasan yang bisa diterima akal sehat atas kehilangan yang dia rasakan. Inikah pertanyaan yang selama ini menghantuinya? Mulutnya hendak melontarkan lebih banyak gugatan lagi, tapi segala kefrustasiannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Kematian kakak iparnya pasti sangat memukulnya.
BERSAMBUNG
Akhir dari Bagian 3 dari 4

Nantikan Bagian 4
Link :




No comments:

Post a comment