Saturday, 14 September 2013

DICKY, SI CHEF KEREN dan BELAGU II (2 dari 4 )

DICKY, SI CHEF KEREN dan BELAGU  II
Bagian 2 Dari 4 : "Ketika Empat Kartu As Berada di Tangan Lawan" 

“ Kalau kamu berhasil menang hanya gara-gara sainganmu sungkan berkompetisi denganmu, sebenarnya sainganmu sedang melecehkanmu!”
--- DICKY ODHIE DHARMA ---



     Kuakui, aku memang sedang iri pada Dicky. Dengan skill memasaknya, Dicky sanggup mempesona Chensy, Freska dan Yun-yun. Dan menurutku, cinta bisa diawali dari ketertarikan skill. Skill memasak Dicky benar-benar membuatnya menjadi primadona, bahkan mengalahkan pesona Charisma Wijaya, si tuan rumah. Walau aku dan Dicky bersahabat, tapi Dicky takkan mundur dari persaingan jika kebetulan kami memperebutkan hal yang sama.
     “ Kalau kamu berhasil menang hanya gara-gara sainganmu sungkan berkompetisi denganmu, sebenarnya sainganmu sedang melecehkanmu!” ujar Dicky saat itu. Aku sependapat dengan Dicky, dan dia orang yang cukup fair untuk bersaing. Aku dan Dicky sepantaran, mungkin juga sama-sama populer di kampus, tapi dalam hal merebut perhatian cewek, sepertinya aku kalah telak malam ini. 

     Gaya Charisma beda banget dibanding Dicky. Charisma bagaikan sosok pangeran impian di dunia sinetron yang jadi kenyataan. Ganteng, kaya, sopan, nggak belagu kayak si Dicky. Nilai-nilai kuliahnya juga bagus. Walau Charisma sudah resmi berpacaran dengan Lestari, aku masih sering cemburu jika dia tampak akrab dengan Renata. Mereka terlihat sangat cocok ketika ngobrolin tentang musik jazz. Kulihat Renata, Charisma, Lestari dan Deni berkumpul bersama di ruang tengah. Jari lentik Renata dengan lincah memainkan grand piano. Charisma mengiringinya dengan bass elektrik  Telecaster. Deni mengiringi dengan Saksofon alto kesayangannya yang sengaja dibawa dari rumah. Mereka semua mengiringi Lestari yang teknik vokalnya mirip, atau dimirip-miripkan Natalie Cole. Di sana masih ada satu gitar elektrik yang menunggu untuk dimainkan. Sayangnya, permainan gitarku bukan tandingan mereka. Terpaksa aku bergabung dengan genk cowok yang tersisa, yaitu Setyo, Randy, Sudibyo, Eron dan Demas. Mereka sedang asyik main Playstation.  
     “ Woiii, masakan udah siap!!!!” teriak Freska dari ruang dapur.

***


     Setelah ritual doa syukur dinaikan, para cowok langsung menyerbu Tongseng Kambing. Cewek-cewek lebih memilih Sate Jamur, yang kandungan lemak dan kolesterolnya lebih kecil. Hanya sedikit yang berani mencoba Oseng-oseng Mercon, karena masakan khas Yogyakarta ini pedasnya bukan main.
     “ …jadi sebenernya resep utamanya apa Chef, biar bisa seenak ini?” tanya Freska ke Dicky.

     “ Tongseng Kambing memang masakan enak. Siapapun chefnya, asal sesuai resep dan cara masaknya benar, hasilnya pasti enak!” jawab Dicky diplomatis, nggak jelas antara pelit ilmu atau memang rendah hati.

     Dicky masih terus dicecar berbagai pertanyaan, terutama dari Freska. Charisma dan Lestari hanya senyum-senyum melihat Dicky memanfaatkan momen itu untuk tebar pesona. Cowok-cowok lain tampak nggak peduli dengan kelakuan Dicky, selama mereka masih bisa melahap Tongseng Kambing buatannya. Kurasa hanya aku yang iri pada Dicky. Dan yang paling menyebalkan, ternyata Renata juga berhasil terpikat dengan masakan Dicky.

     “ …apapun yang kalian lakukan di dapur, jangan pernah merusak aroma masakan.” Kata Dicky.

     “ merusak aroma masakan? Maksudnya?” tanya Freska

     “ Aroma adalah jiwa dari masakan! Ialah yang membuat tiap masakan unik dan berbeda satu dengan yang lain.” papar Dicky. 

     “ Masih nggak ngerti nih chef? ” tanya Freska kurang puas.

    “ Bau masakan lebih kuat merangsang penciuman kita ketimbang indera pengecap! Aroma masakan yang kita hirup lewat hidung dan terkirim ke otak, ternyata nyumbangin kenikmatan lebih besar ketimbang yang kita cicip pake lidah!” lanjut Dicky.

     Kali ini Freska dan semua cewek menjadi takjub dengan penjelasan Dicky.




    “Coba kalo kalian minum kopi sambil menutup hidung, pasti kenikmatannya hilang separuh. Kalo nggak percaya, tuh tanya Xervan si pakar kopi…”

     Semua mata tiba-tiba memandang kepadaku. Sebutan pakar kopi untukku sebenarnya agak berlebihan. Mungkin ini cara Dicky mengatasi kebosanannya memberikan 'kuliah umum' kepada cewek-cewek ini. Makanya dia coba lemparkan topik ini kepadaku.

     “Ehm, Yah Dicky benar, tapi aku sebenarnya bukan pakar kopi…” ujarku.

    “ Oh ya! Bukannya tiap hari elo ngajak gua ngopi terus ya?” sahut Renata.

   “ Tiap hari ya? Masa sih? Mungkin itu karena aku biasa nulis feature tentang kopi di majalah. Tapi aku setuju dengan Dicky. Memiliki saraf hidung yang sehat adalah salah satu anugerah Tuhan yang memungkinkan kita bisa menikmati makanan dan minuman yang enak!” lanjutku.

     Ketika menyebut kata 'Tuhan', beberapa orang mulai nggak tertarik. Bahkan selagi aku bicara, Freska dan Yun-yun langsung melanjutkan obrolannya dengan Dicky. Hanya tinggal Renata yang masih mengangguk-angguk sebelum akhirnya beralih ke Dicky. 
     Kupikir setelah ucapanku tadi, perhatian Renata akan tertuju padaku. Rupanya aku keliru. Dicky tetap jadi pusat perhatian. Malam ini memang milik Dicky. Aku jadi tambah iri. Apalagi sekarang Renata bergabung dalam 'klub pengagum Dicky'. Dicky benar-benar memainkan kartunya dengan cantik. Dan kini ia memegang empat buah  kartu As.  
 
BERSAMBUNG
Akhir dari Bagian 2 dari 4
Klik link dibawah ini untuk mengikuti lanjutannya :


Link Cerita sebelumnya:

2 comments:

  1. Wah parah... Udah keren belagu..
    Chef mau kasih info nih.. Jika butuh Kemasan Makanan dapat hubungin kita ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Greenpack: haha thanks udah baca dan info greenpacknya.
      Ntar kita bantu promosiin deh... Salam kenal.

      XERVAN

      Delete