Monday, 12 November 2012

Gimana Cara Ngalahin Pesaing yang Punya Segalanya


Gimana Cara Ngalahin Pesaing yang Punya Segalanya? 

"...aku sedang bersaing dengan orang sempurna yang memiliki segalanya Den!  Gimana aku bisa menang, jika harus bersaing dengan cowok kayak dia?”
 --- Dio Xervan Lie ---

 
Hampir satu jam bunyi alunan musik itu menggema dari dalam kamar Deni.  Deni cukup gemas melihat permainan jari Xervan di atas tuts keyboard yang masih kaku dan sering salah.
     “Injak pedalnya Van, kamu musti nginjak pedal di awal ketukan!” ujar Deni di samping Xervan.
     “ Wahh Sori-sori Den? Aku terlalu fokus di teknik fingering?” sahut Xervan sambil memijat-mijat telapak tangannya.
    “  Kenapa tanganmu? Pegal? Kalo tanganmu sampai pegal, pasti ada yang salah dengan caramu menekan tuts keyboard”
    “ Hmmm gitu yah? Kira-kira butuh berapa lama sampai aku bisa ngiringin lagu Jazz?”
    “ Sebelum bisa belajar jazz, sebaiknya kamu belajar partitur blues dulu Van!”
    “ Wah, aku kurang suka nge-blues! Aku maunya langsung praktek nge-jazz…”
    “ Kamu nggak akan dapat penghayatannya? Main lagu dari penyanyi jazz tuh nggak sama dengan main musik jazz.”
    “ Aku nggak ngerti Den! Maksudnya?”
    “Gini deh; lagu jazz apa yang paling kamu suka?”
    “ Ehhh… ehm Apa ya? Haha lupa aku!”
    “ Walahhh… Servan-servan! Ngakunya penggemar jazz, tapi disuruh nyebutin salah satu lagu jazz aja kamu nggak bisa! Kalau gitu penyanyinya deh! Siapa penyanyi jazz favoritmu?”
    “ Aku? Tony Bennett! Terutama lagu For Once in My Life!”
    “ Meskipun kamu main lagu For Once in My Life pakai keyboard, nggak otomatis kamu sedang mainin lagu jazz. Sejauh pengamatanku, teknik yang kamu mainkan sebenarnya masih cenderung nge-pop.”
    “Hah? Aku masih cenderung nge-pop? Aku makin nggak ngerti maksudmu Den!”
    “ Hahahaha! Gimana yah caranya bikin kamu ngerti? Tapi ngomong-ngomong sejak kamu deket sama si Renata kok kamu jadi demen musik jazz sih?” tanya Deni dengan curiga.
    “ Aku? Masa sih? Aku kan emang lagi pengin belajar jazz aja hahaha…” ujar Xervan agak tersipu-sipu malu.
    “ Udahlah, aku tahu siapa Renata! Kami sering ngobrol bareng soal jazz! Dia juga udah cerita kok, kalau kalian mulai dekat! CD lagu-lagu yang sering kamu putar malam-malam tuh kamu pinjam dari si Renata kan?”
    “ Hah? Kedengeran sampai kamarmu ya Den? Emang si Renata bilang juga, kalo CD lagunya kupinjam?”
    “ Nggak! Aku nebak aja sih Van! Itu semua kan emang artis favoritnya Renata!”
    “ Emang kamu tahu semua siapa artisnya?”
    “ Ya tahulah Van! Michael Buble, Diana Krall, Frank Sinatra, Nathalie Cole, Nina Simone, tapi yang paling sering kamu puter tuh emang lagu si Tony Bennett!”
    “ Iya sih Den! Aku ngefans sama Tony Bennet! Tapi aku juga lagi berusaha menikmati penyanyi-penyanyi jazz yang lain, supaya nyambung kalau ngobrol sama Renata.” ujar Xervan agak lemas dengan kepala nunduk.
    “ Hahaha…Jadi bener nih, kamu bela-belain belajar jazz tuh gara-gara Renata kan? Hehe… tapi kenapa kamu jadi nunduk gitu?”
Xervan terdiam beberapa saat, sambil mengingat kembali kencan terakhirnya dengan Renata.
    “ Kemarin aku jalan bareng sama Renata, kebetulan waktu itu Kharisma dan Dicky join gabung di meja kami. Kukenalkan si Renata ke mereka berdua. Terus kami berempat ngobrol. Awalnya pembicaraan kami sempat kaku. Tapi ketika Kharisma ngomongin musik jazz, Renata langsung bersemangat nanggapin. Renata terus asik ngobrol sama Kharisma tentang jazz. Dicky yang pada dasarnya nggak terlalu suka musik, jadi nggak bisa ikut nimbrung. Aku juga jadi kayak diacuhkan sama si Renata.”

    
    “Jadi ceritanya kamu tuh cemburu karena Kharisma dan Renata terlihat akrab?!”
    “ Dengar dulu Den… aku tuh…”
    “ Kamu kan tahu Van, Kharisma emang dari sononya suka lagu jazz? Wajar donk kalo dia akrab sama Renata.” Potong Deni.
    “ Yahhh mungkin aku memang cemburu Den! Kharisma kan ganteng, kaya, pintar. Waktu ngobrolin tentang jazz, Renata kayak langsung lengket sama Kharisma! Aku udah nggak dianggap lagi. Padahal seharusnya itu kan kencanku berdua dengan Renata.”
    “ Trus sekarang kamu mati-matian belajar jazz supaya nggak kalah saing sama si Kharisma? Gitu??”
Xervan tidak menjawab pertanyaan Deni.
    “ Kharisma tuh kan temenmu Van! Lagi pula kan dia udah jadian sama Lestari? Kenapa kamu mesti cemburu?” 
Xervan masih tidak menjawab.
    “ Kalau kamu memang suka sama Renata, sebaiknya kamu tampil apa adanya aja! Kamu masih bisa tetep jalan sama dia, walaupun kamu nggak bisa main keyboard kan?”
Xervan menghela nafas agak panjang sebelum akhirnya menjawab.
    “ Aku bukan cuma cemburu sama Renata! Aku iri dengan keberadaan Kharisma. Asal kamu tahu aja, di depan mataku, Kharisma ngajakin kami berdua nonton konser Jazz bareng. Renata langsung setuju, padahal harga tiketnya aja bagiku selangit! Lalu Kharisma juga ngajak main band bareng, ajakan kedua inilah yang aku nggak bisa. Aku kan nggak bisa main musik Den? Tapi keliatannya Renata happy banget diajak ngeband sama Kharisma.” Ujar Xervan.
    “ Lha, kamu kan tetap bisa ikut nimbrung sama mereka, pas latihan atau nonton konser bareng?”
    “ Itu masalahnya Den! Di libur akhir tahun sekitar Desember nanti, Kharisma sekeluarga akan liburan di Amerika. Charisma akan nonton konsernya Michael Buble dan mungkin juga akan nonton konsernya Tony Bennett. Pas denger gitu, Renata langsung melonjak kegirangan, karena Desember besok kebetulan dia juga akan liburan ke Amerika. Kharisma berjanji ngusahain tiket untuk Renata jika mereka bisa ketemu di sana. Mereka berdua, beserta keluarga mereka masing-masing, akan sama-sama ke Amerika Den! Sedangkan aku? Paspor aja aku belum punya!” ujar Xervan dengan nada lesu.

     
     Deni menatap Xervan dan melihat ekspresi putus asa terpancar di wajahnya. Deni mengenal Xervan sebagai sosok yang selalu bersemangat, dan jarang mengeluh, tapi ketegaran hatinya seolah rontok gara-gara kedekatan Renata dengan Kharisma.
    “ Sejujurnya aku pengin marah pada keadaan Den, kenapa ada orang seperti Kharisma, yang dikaruniai wajah ganteng dan pinter, sekaligus kaya? Kalo di film-film atau di cerita sinetron, kelemahan orang kaya yang ganteng tuh biasanya keangkuhannya. Tapi Kharisma bukan orang angkuh, malahan banyak orang yang bersimpati sama dia. Seolah aku sedang bersaing dengan orang sempurna yang memiliki segalanya Den!  Gimana aku bisa menang, jika harus bersaing dengan cowok kayak dia?” kata Xervan dengan frustasi.
Deni berdiam sejenak dan membiarkan Xervan melepaskan seluruh keluh-kesahnya, namun Xervan sudah kehabisan kata-kata.
    “ Kalau aku di posisimu, mungkin aku juga bakal frustasi sama kayak kamu Van. Tapi kuberi tahu sesuatu ya, Aku nggak bohong nih! Aku bukan sedang nyoba nyenengin kupingmu Van, tapi si Kharisma pernah ngomongin tentang kamu…”
Xervan menoleh ke muka Deni dengan rasa penasaran.
    “ Kharisma pernah bilang, kalau dia senang ngeliat semangatmu Van! Kamu tuh lahir dari keluarga sederhana, tapi kamu punya banyak teman yang peduli dan sayang sama kamu. Kharisma sering bertanya-tanya, kalau aja dia bukan dari keluarga tajir, apa dia masih bisa punya teman-teman seperti yang sekarang ini?” kata Deni.
    “ Serius Den? Kenapa dia sampai bisa ngomong gitu yah?”
    “ Kharisma banyak ketemu teman yang nggak tulus. Mereka tahu kalau Kharisma adalah anaknya Robert Wijaya, si tajir yang punya ratusan perusahaan. Yakin deh Van, dia pernah curhat ke aku, jadi anak orang kaya tuh tantangannya juga nggak gampang lho!”
    “ Tapi itu nggak mengubah fakta Den! Renata dan Kharisma akan berada di Amerika pas liburan akhir tahun nanti. Ninggalin aku di kota Jagakarya tercinta ini Den. Dan nggak ada satupun yang bisa kulakukan untuk bisa mencegahnya. Aku tetap benar-benar cemburu Den! Mau si Kharisma udah punya pacar atau belum, kan bukan jaminan bahwa dia nggak akan memikat si Renata!”
    “ Wajar Van kalau kamu cemburu kayak gitu! Tapi kamu benar! Memang nggak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Saranku Van; bersyukur aja dengan apa yang kamu punya? Sadarilah akan kelebihanmu, bahkan orang kayak Kharisma aja bisa mengakui kelebihanmu kok.  Lagipula kalau nggak ada Renata, kamu kan masih bisa jalan sama Chensy! Ngomong-ngomong gimana sih hubunganmu sama Chensy?”
    “ Aku sama Chensy tuh temenan aja Den!”
    “ Tuh, minimal kamu masih punya temen cewek yang cantik. Kamu mesti bersyukur tuh Van! Kenapa nggak jadian aja sekalian sama Chensy? Kalian udah lama saling kenal dekat kan?”
    “ Hehehehe…Saranmu untuk bersyukur bisa kuterima Den! Tapi saranmu agar aku jadian sama Chensy nggak bisa kuterima. Aku dan Chensy cuma berteman! Saat ini di hatiku cuma ada Renata seorang?” ujar Xervan sambil tersenyum malu-malu.
    “ Kan Chensy juga cantik Van?”
    “ Hahaha… nggak bisa Den! Renata begitu kuat memikatku! Makin aku berusaha ngelupain Renata malah makin aku suka sama dia!”
    “ Yahhh itulah repotnya kalo berurusan sama cowok yang lagi jatuh cinta! Tapi aku senang, tampangmu udah lebih ceria sekarang Van, nggak sekusut tadi!”
    “ Hahaha, jadi gimana? Aku udah boleh latihan partitur jazz?”
    “ Nggak Van! Kamu harus nurut! Belajar dari partitur blues dulu!”
    “ Tapi aku kurang suka blues…”
    “ Udah jangan ngeyel! Ayo latihan lagi!” 

TAMAT
*****
Reference :
https://tonybennett.com
http://www.youtube.com/watch?v=iQPjlLc5tHk





Courtesy of youtube

No comments:

Post a comment